"Maa, Takut! Itu Siapa?" (bagian 2)


Ketakutan sebenarnya bisa dikendalikan sejak dini.Menurut dosen Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung, usia tujuh atau delapan bulan adalah saat yang tepat untuk memberi pelatihan dan kesempatan pada anak-anak untuk berinteraksi dengan banyak orang. Pada usia ini, anak sudah mulai dapat membedakan orang yang ditemuinya. Anak sudah belajar untuk memilih.

Saat imunisasi di posyandu, misalnya. Seringkali ketika ke posyandu, ibu-ibu hanya sekedar membawa anak, suntik, kemudian langsung pulang ke rumah. Padahal kesempatan seperti ini adalah moment yang tepat bagi anak untuk bersosialisasi. "Bukan malah orang tuanya saja yang bersoasialisasi," ujar wanita yang biasa dipanggil Yena ini sambil tertawa kecil.
Adakalanya, orang tua segan membiarkan anak berinteraksi karena khawatir akan membuat ulah atau membuat anak lain menangis. bagaimana jika kemudian anak saling berebut mainan? Yena yang memiliki tiga oang anak memberi resep untuk mengakali masalah ini lewat upaya mengalihkan perhatian anak dengan hal yang lain. Menurutnya, memberi kesempatan sedini mungkin pada anak untuk berinteraksi, merupakan harta yang berharga bagi anak. Lewat pengalaman, anak menjadi biasa bertemu orang asing.
Latih Lewat Permainan "Ci Luk Ba"
"Mau bagaimana lagi, sejak dulu dia memang takut pada orang asing. Memang sudah karakternya, "lirih sang Ibu saat konsultasi pada seorang psikolog. Sang Ibu khawatir melihat kondisi anaknya yang semakin menjauhkan diri dari kerumunan orang. Semakin bertambah usia, sang anak justru semakin takut untuk keluar rumah.
***
Pada Auladi, Yena coba meluruskan persepsi sebagai seorang tua, "Sebenarnya karakter seseorang itu dipengaruhi dua hal. Faktor bawaan dan luar. Jadi, sebetulnya karakter itu bisa dikondisikan. Bila ayah dan ibu tipe pendiam, anak biasanya akan terbawa diam. Jika anak ingin berubah, ayah dan ibu bisa terlebih dahulu berubah. Insya Allah anak akan mengikuti".
Usia satu hingga lima tahun, merupakan saat emas untuk membentuk kepribadian anak selanjutnya. Karena, pada saat ini, peran serta dan dampak interaksi anak dengan orang tua sangat besar. Selain itu, anak usia satu hingga lima tahun sangat peka terhadap rangsanganemosi dan intelektual. Maka, memberi stimulasi di masa ini tentu akan sangat optimal.
Tak perlu menjadi seorang profesional untuk menstimulasi anak. Permainan "Ci Luk Baa" yang tak asing lagi ditelinga kita bisa jadi salah satu metode yang efektif. Saat anak tertawa kegirangan karena melihat mimik kita yang berubah-ubah, saat itu pula lah anak sedang mengenali perubahan-perubahan yang mungkin terjadi di sekelilingnya.
Lantas, bagaimana bila anak sudah terlanjur takut berlebih pada orang asing? tak perlu berputus asa. Orang tua tetap bisa berperan serta aktif untuk melatih buah hati. Membuka kesempatan yang luas pada anak untuk berinteraksi, memberi reward ketika anak berhasil mengatasi ketakutannya, serta terus mencoba, dapat mengurangi rasa takut anak. Stimulasi lainnya dapat dilakukan dengan "Bermain Peran". Misalnya, orang tua berpura-pura menjadi orang asing, sedangkan anak menjadi tuan rumah. Lalu, mainlah seolah-olah anak sedang menyambut tamu.
Namun, mengajari anak waspada pada orang asing tetap diperlukan. Karena, tak ada satupun orang tua yang mengiginkan hal-hal buruk, seperti penculikan, menimpa sang anak. "Orang tua memang harus tetap mempersiapkan anak menghadapi orang asing. Namun, bukan lantas ditakut-takuti atau dibiarkan mau dengan siapa saja," jelas Yena menutup pembicaraan.