Jangan Main Hakim Sendiri



Pertemuan dengan cendekiawan yang dihadiri oleh 4 ribu orang desa itu akhirnya menimbulkan pertanyaan yang sulit dijawab sendiri oleh Maskawi. Daripada bingung sendiri ia segera mendatangi gurunya tempat ia mondok sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Setelah dipersilakan duduk, ia bertanya kepada gurunya, seorang kiai yang cukup bijak, katanya,"Pada suatu hari, saya mendatangi acara ceramah yang diberikan oleh seorang cendekiawan. Saat ia sedang asyik berceramah, lalu terdengar suara adzan dari mesjid yang jauhnya tidak lebih dari 300 meter dari tempat acara itu. Para hadirin yang terdiri dari ulama dan masyarakat di sekitar situ semua menjawab panggilan adzan itu. Tapi, yang aneh, sang cendekiawan terus bicara menyelesaikan ceramahnya. Bagaimana bisa terjadi seperti itu Tuan Guru?"

"Kejadian itu bukan perkara aneh,"jawab Tuan Guru.
"Kalau ia sudah mendengar panggilan salat, mengapa ia tetap berceloteh? Apakah itu berarti ia menganggap pidatonya sendiri lebih penting dan lebih baik dari suara adzan?"
"Kalau para hadirin lebih banyak menjawab adzan itu bagus. Itu artinya penggilan surga itu masih diperhatikan umat.

Soal cendekiawan itu tidak menjawab adzan, itu mungkin karena ia sedang keasyikan dengan pidatonya sendiri. Orang yang lagi asyik atau sangat asyik bisa tidak mendengar suara orang lain. Tetapi aku mohon, hendaknya engkau bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan, sehingga engkau tidak terjebak oleh pemikiranmu sendiri tanpa mencoba untuk mengerti orang lain. Bila engkau tidak mencoba untuk mengerti orang lain, salah-salah engkau bvisa bertindak sebagai hakim. Padahal tak seorang pun mengangkatmu sebagai hakim."





Software Hotel Untuk Hotel Budget

Perkembangan hotel di Indonesia sangat pesat, hal ini beriring dengan makin meningkatnya keinginan orang untuk melakukan perjalanan, baik ...

Terpopuler