Batu Kecil yang Mahal


"Mat," panggil Duki pada Mat Kacong sehabis salat subuh. "Tadi malam aku menghadiri pengajian di desa Jenangger. Kiai Abduh menjelaskan perbedaan orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Menurut engkau orang berilmu dengan orang tidak berilmu itu sama atau berbeda?"
"Jelas berbeda," jawab Mat Kacong. "Apa bedanya?"
"Seperti pulpen yang tidak berisi tinta dengan pulpen yang sudah berisi tinta. Pulpen yang tidak berisi tinta tidak bisa digunakan untuk menulis sedangkan pulpen yang berisi tinta bisa digunakan untuk menulis. Perumpamaan yang lain banyak, dan sangat banyak." "Perumpamaan itu cukup jelas. Tapi barangkali ada contoh yang lebih jelas lagi?"

Sebagaimana biasa, Mat Kacong lalu termenung beberapa saat. Kemudian berkata,"Pak Sadin, kenalan saya di Bangkalan pernah sulit untuk mengeluarkan air seni. kemudian diperiksakan ke dokter dan Pak Sadin dinyatakan kencing batu."
"Lalu apa hubungan penyakit kencing batu Pak Sadin dengan pertanyaanku?" tanya Duki.
"Sebentar, bicaraku belum selesai. Dengarkan dulu penjelasanku! Kemudian Pak Sadin opname di rumah sakit dan operasi.
Batu yang mengganjal kencing itu diambil oleh dokter, kemudian Pak Sadin bisa berkencing dengan lancar. Biaya mengambil batu itu satu juta rupiah."
"Ah, jawab yang jelaslah!" ujar Duki.
"Dokter dengan ilmunya, mengambil batu sebesar empu jari di pinggang Pak Sadin mendapat uang satu juta rupiah. Sedangkan tukang batu menggali batu untuk dibuat kapur atau pondamen rumah sebanyak satu meter kubik, hanya mendapatkan uang lima ribu rupiah. Bayangkan, batu sebesar empu jari bisa jauh lebih mahal dari batu satu meter kubik. Itu karena ilmu."


Sumber: Sate Madura


Pengakuan


Seorang pejabat di sebuah kantor, sehabis salat zuhur mengajak salah seorang karyawannya berbicara empat mata di ruangan kepala yg agak luas dan sepi itu. Oleh karyawan yg berada diperingkat bawah itu, hal seperti itu dianggap kejadian tidak seperti biasanya. Sebelum percakapan dimulai, karyawan yang sudah hampir pensiun itu terheran-heran. "Apa gerangan yang hendak diutarakan atasanku ini?" pikirnya.
"Pak!" ujar pejabat itu memulai percakapan, "Aaya ini mendapat gaji cukup besar. Selain itu masih mendapat tunjangan macam-macam. Selain itu masih berbuat ini dan itu."

"Ini dan itu yang bagaimana, Pak?" tanya karyawan tua itu.
"Terus terang, secara jujur saya akui, sesekali saya mendapatkan uang gelap."
"Uang gelap bagaimana, Pak?" tanya karyawan tua itu lugu.
"Terus terang, uang hasil korupsilah. Tetapi sampai sekarang saya belum merasa mendapat apa-apa. Rumah yg saya tempati sekeluarga itu rumah cicilan dan sampai sekarang belum lunas. Anak-anak saya yang dua itu gugur kuliah sebelum mendapat titel sarjana. Sedangkan sampeyan yang gajinya sangat kecil, tidak melakukan ini itu seperti saya, hidupnya tampak sangat bahagia. Anak sampeyan yang pertama lulus perguruan tinggi dengan nilai cemerlang langsung diangkat jadi dosen. Dalam hal keluarga saya merasa kalah bersaing dengan sampeyan."
"Saya tidak merasa bersaing dengan Bapak. Sungguh. Saya hanya menjalankan hidup ini dengan kemampuan yg saya miliki."
"Nah, itulah keberuntungan sampeyan. Sekarang saya ingin bertanya, bagaimana caranya sampeyan mengatur hidup ini?"
"Saya tak pernah merasa mengatur hidup ini. Saya hanya berikhtiar. Lalu saya merasa senang kalau diri ini mau diatur oleh Allah."


Sumber: Sate Madura
Ditulis kembali: Syaefrudin_78@yahoo.com



Software Hotel Untuk Hotel Budget

Perkembangan hotel di Indonesia sangat pesat, hal ini beriring dengan makin meningkatnya keinginan orang untuk melakukan perjalanan, baik ...

Terpopuler